Garuda Pancasila
Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan membentuk Unit Kerja Presiden Bidang Pemantapan Ideologi Pancasila. Unit kerja ini akan mengoordinir gerakan nasional pemantapan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Di tengah kondisi bangsa yang sarat intoleransi dan radikalisme; unit ini sangat dibutuhkan oleh negeri.  Kita tentu bisa membaca maksud pendirian “unit Pancasila” ini. Tak lain merupakan reaksi presiden atas kondisi bangsa yang mengalami ancaman sektarian. Ancaman ini telah menyasar bangunan kemajemukan yang telah lama terbina.  Sebagai bangsa yang terbentuk oleh etno-nasionalisme: nasionalisme multi-etnis, kultur dan agama; Indonesia telah teruji mengarungi hidup bersama berdasar Bhinneka Tunggal Ika. Dalam kaitan ini Pancasila menjadi bukti dan bentuk rajutan kemajemukan tersebut dalam dua arti. Pertama, ia merupakan bukti historis bagi toleransi agama karena umat Islam yang mayoritas rela melepas idealisme ideologisnya, yakni pendirian negara berasas Islam. Karena mengapresiasi keberatan tokoh Kristen Indonesia Timur; para pemimpin Islam akhirnya menyetujui sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai nilai ketuhanan bangsa yang mewakili semua agama, bukan hanya Islam saja. Kedua, Pancasila merupakan bukti persatuan ideologi politik dunia sehingga melahirkan ideologi bangsa Indonesia yang unik dan khas. Abdurrahman Wahid dalam Pancasila: A Religious Political Doctrine in Indonesia (1987) menyebut Pancasila sebagai doktrin politik religius, karena sila ketuhanan memayungi segenap sila di bawahnya. Ini menjadi bukti bahwa ia merupakan ideologi bersama (common ideology) di mana Islamisme, nasionalisme, sosialisme, dan juga humanisme serta demokrasi bisa bergandengan tangan demi pembentukan negara yang mengagungkan Tuhan di satu sisi, dan keadilan sosial pada saat bersamaan. Ini yang membuat Soekarno dalam Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berani menempatkan Pancasila sebagai alternatif dari Declaration of Independence Amerika Serikat (AS) dan Manifesto Komunis. Di tengah pertarungan besar liberalisme versus komunisme pada saat itu, Pancasila layak dihadirkan sebagai, pinjam istilah Soekarno, peningkatan lebih tinggi (hogere optrekking). Arus Islamisme Sayangnya, kekuatan Pancasila yang secara teoretik dan etis layak menjadi salah satu ideologi besar dunia ini kini diragukan oleh sebagian kalangan, terutama kelompok agama. Ini merupakan ekses dari kebebasan berserikat paska Reformasi 1998, yang telah membangkitkan ideologi Islam yang selama Orde Lama dan Orde Baru tiarap. Pancasila kemudian diragukan ketika dibandingkan dengan Islamisme yang dibawa oleh gerakan Islam trans-nasional pembawa agenda politik global. Sebuah gerakan Islam trans-nasional yang mengusung pendirian kembali khilafah Islamiyyah mengafirkan Pancasila karena dinilai tak sesuai dengan Islam (al-Banshasila falsafah kufr la tattafiq ma’a al-Islam). Alasannya seperti termaktub di atas: Pancasila melindungi pluralisme agama dan pluralisme ideologi, padahal menurut mereka hanya Islam dan Islamismelah agama (ideologi) yang benar. Atas alasan ini, gerakan khilafah tersebut memprovokasi anggotanya untuk mengidealkan khilafah di atas NKRI dan demokrasi, asas Islam di atas Pancasila, dan kesatuan umat global di atas nasionalisme. Mereka mengajak anak muda kita untuk menolak hormat kepada bendera merah-putih serta membisu kala lagu Indonesia Raya berkumandang. Secara ideologis, gerakan seperti ini telah mendelegitimasi Indonesia sebagai bangsa, tempat mereka lahir dan hidup. Persoalan tak berhenti di sini karena kita tidak hanya diserang oleh radikalisme, tetapi juga puritanisme dan terorisme. Jika radikalisme menyasar sistem politik Indonesia karena ingin menegakkan sistem politik Islam. Maka puritanisme ingin menegasikan budaya Indonesia karena dianggap sebagai budaya rendah (low culture) di bawah budaya tinggi Islam. Kampanye pembersihan Islam dari budaya lokal, menyiratkan negasi kebudayaan Indonesia. Jika kemajemukan agama merupakan salah satu tenunan budaya Indonesia, maka gerakan puritan ini tentu menjadi sumbu bagi intoleransi beragama. Demikian pula ancaman keamanan dari terorisme yang digerakkan oleh kaum jihadis. Berbagai aksi penangkapan teroris yang kini marak dilakukan Densus ’88 membuktikan bahwa terorisme masih mewabah di negeri ini. Sebagian mungkin bermotif politis, namun sebagian besarnya bermotif ideologis. Bagi kaum jihadis, Indonesia adalah “musuh jauh” yang identik dengan “musuh dekat” (Barat) karena menerapkan sistem politik modern. Selama Islam belum menjadi negara, selama itu pula Indonesia ditempatkan sebagai wilayah perang (dar al-harb) yang setiap saat harus diteror. Tiga Langkah Lalu bagaimana baiknya ideologi Pancasila dimantapkan baik oleh “unit Pancasila” bentukan presiden, maupun oleh bangsa ini secara umum? Pertama, perlu ditunjukkan bahwa antara Islam dan Pancasila memiliki keselarasan. Hal ini terjadi pada level teologis (tauhid), hukum (syari’ah) dan etika (akhlaq). Pada level teologis, sila ketuhanan menyiratkan prinsip tauhid. Ini yang membuat Nahdlatul Ulama (NU) misalnya, menyetujui kebijakan Asas Tunggal Pancasila oleh Orde Baru pada 1979. Secara syar’i, segenap nilai Pancasila mencerminkan tujuan syariat (maqashid al-syar’i) berupa perlindungan terhadap kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan kesejahteraan. Prinsip utama politik dalam kaidah fikih ialah kesejahteraan rakyat sebagai basis utama kebijakan pemimpin (tasharruful imam ‘ala ra’iyyatihi manuthun bil mashlahat). Kedua, perlu dijelaskan hubungan agama dan negara dalam rangka Pancasila. Hal ini disebabkan kesalahpahaman kaum radikal yang menilai Negara Pancasila sebagai negara sekular. Padahal Pancasila menganut hubungan toleransi kembar (twin toleration) agama dan negara. Dalam hubungan ini, agama menghormati negara dengan tidak mengagamakan negara, namun mendukungnya melalui keadaban umat beragama. Pada saat bersamaan, negara menghormati agama dengan tidak mengintervensi kebebasan beragama, sembari menfasilitasi praktik beragama dan kerukunan umat. Ketiga, perlu ditandaskan bahwa cara beragama yang Pancasilais merupakan cara beragama yang sangat Islami. Hal ini dikarenakan nilai-nilai etis Pancasila sesuai dengan substansi syariat dan politik Islam. Menolak hal ini berarti menolak hakikat Islam sembari memperjuangkan simbol yang menciderai maknanya! Syaiful Arif Anggota Masyarakat Pancasila

Agama dan Pemantapan Pancasila


Dalam kaitan dengan keinginan mengembalikan semangat Pancasila di kehidupan berbangsa dan bernegara kita, Masyarakat Pancasila (MP) telah menyelenggarakan beragam kegiatan yang bekerjasama dengan banyak pihak. Pada 17 Agustus 2016 lalu, misalnya, MP mengadakan nonton bareng film ‘Pantja-Sila, Cita-Cita dan Realita’ […]

AKU Pancasila Kembalikan Kesetiaan dan Semangat Kebhinekaan di Era Digital



Era digital memang membuat perekonomian berputar lebih cepat dan mendorong kesejahteraan masyarakat. Namun di sisi lain, era digital juga berpotensi melunturkan nilai-nilai kebangsaan serta semangat berbangsa dan bernegara, khususnya pada generasi muda. Hal itu tercermin dari semakin sensitifnya masyarakat pada […]

Ketika Ekonomi Kreatif Bersanding dengan Nilai-nilai Pancasila